Konten Hebat Bagi yang Tepat, Sebuah Jawaban
11 12 2008Tags: marketing, opinion, web2.0
Beginilah dinamika interaksi di blogsfer. Blog sebagai media dua arah, mengharuskan kita selalu siap menghadapi berbagai respon yang mungkin timbul. Kali ini respon kritis cenderung menyebalkan terhadap post saya yang berjudul Konten Hebat Bagi yang Tepat datang dari dua orang sahabat lama sesama blogger. Perlu di catat ini bukan yang pertama sampai-sampai saya harus menjawab pertanyaan dan pernyataan kedua orang tersebut dalam satu post. Post ini saya fungsikan hanya sebagai perluasan kolom komentar yang saya pikir terlalu sempit bila digunakan untuk menjawab pertanyaan dan pernyataan beliau-beliau.
Sebenarnya di beberapa kolom komentar sudah saya perkenalkan, tetapi saat ini perkenankan saya memperkenalkan beliau-beliau lagi di sini.
Nonadita blogger kawakan asal Bogor yang sudah cukup terkenal di lingkungannya he..he.., maaf, di blogsfer Indonesia tepatnya. Apakah Anda mengaku sebagai blogger?
Bila belum mengunjungi dan berkomentar di blog NonaDita kebloggeran Anda patut saya pertanyakan he..he.. berlebihan.
Kebon jahe a.k.a. Rumputpagi, blogger yang ngeblog dengan pendekatan inside-out (baca: mau ambil, ngak mau yaudah, nggak ada ruginya buat gw
) salah satu blogger yang kontroversial karena kelakuannya he..he.. maaf saya tidak dapat berpanjang lebar karena beliau agak kurang merasa nyaman bila terkenal
.
Sebelumnya saya kutipkan respon pada post tersebut yang saya akan tanggapi di sini
- Kebon jahe (11:55:19)
- [antitesis]
Kok kayaknya rumit amat yah.. Kalo menurut gue cukup pake pendekatan dari diri kita. Kita yang tentuin konten apa yang bakal kita pasang. selalu ada pasar untuk apapun, karena sebenernya STP ala kotler itu cuma mendikotomikan antara selera yang satu dengan selera yang lainnya. Kenapa selera minoritas jarang tergarap dengan baik, karena biasanya barriernya banyak sekali. Tapi sekarang kita berbicara tentang konten di web, maka PRAISE THE LORD, karena sekarang ada GOOGLE dan kawan-kawannya. Apapun jenis konten anda, pasar tetap akan datang kepada anda dengan jembatan search engine tadi. Tidak perlu riset pasar segala, cukup keluarkan konten yang anda anggap menarik, komunikasikan dengan baik, dan VOILA, anda sudah bisa membayangkan kelanjutannya kan?
[/antitesis]
- nonadita (13:41:47)
- *angkat topi tinggi2 untuk Kebon Jahe*Ngeblog itu (awalnya) buat saya arena bersuka2, karena itu memang nggak menerapkan ilmu STP segala.
- Duwh, dengan tahapan2 STP begini, apakah nanti blog nggak jadi kehilangan spontanitasnya ya? Mungkin karena tujuan kita berbeda, Mon… *menerawang jauh*
@Kebon jahe
Entah lah sepertinya hal tersebut (”pake pendekatan dari diri kita”) lebih kepada kecenderungan pribadi (personal preferences) Anda, mungkin bila boleh saya gunakan istilah pendekatan “inside-out”. Terlihat jelas pada disain blog Anda yang sangat “Anda sekali” dan terkadang membuat saya menitikan air mata karena iritasi ringan ketika membacanya langsung. Praise to The Lord, Google’ve made google reader.
Sebelum lebih jauh ada baiknya saya coba untuk meluruskan sebenarnya apa yang Anda beri tag “antitesis” di atas. Bila anda perhatikan tesis saya pada post ini (duh kok ngomongnya serasa akademisih begini
) adalah suatu konten dapat menjadi hebat pada segmen yang sesuai dan pendekatan “satu untuk semua” cenderung untuk tidak efektif lagi, dengan berbagai alasan yang telah saya sebutkan di awal post. Sedangkan tesis Anda, yang berada di antara tag antitesis sejauh yang saya tangkap tentunya, adalah selalu ada pasar untuk apa pun, dengan dijembatani google dan kawan-kawannya. Yak kita dapat membandingkan secara langsung di sini, apakah hubungan keduanya adalah tesis dan antitesis? Menurut hemat saya, bukan.
Masalah STP ala Kotler, sejauh yang saya pahami baik dari teori maupun praktik di lapangan “sebenernya” tidak ada usaha untuk mempertentangkan, atau yang Anda sebut dikotomi itu, antara selera yang satu dengan selera yang lainnya. Apa yang harus dipertentangkan?, bila ada kelompok konsumen A memiliki selera alpha dan ada kelompok konsumen B memiliki selera beta, silakan masing-masing memilih seleranya masing-masing. Sejauh yang saya tahu STP tidak berpotensi menimbulkan fanatisme pada masing-masing kelompok konsumen sehingga memaksakan seleranya kepada kelompok konsumen lainnya yang berbuntut timbulnya pertentangan, atau menyarankan kepada produsen , dalam hal ini penyedia konten, untuk mewajibkan seluruh kelompok konsumen menerima apa yang ia punya. STP ala Kotler hanya membantu, dalam hal ini penyedia konten (dan konsumen itu sendiri secara tidak langsung), untuk memilih segmen yang paling sesuai dengan kondisinya sehingga dapat memfokuskan sumber daya yang dimiliki dan akhirnya memberikan pelayanan optimal kepada segmen pasar disasar tersebut.
Menanggapi pernyataan Anda
“Tidak perlu riset pasar segala, cukup keluarkan konten yang anda anggap menarik, komunikasikan dengan baik, dan VOILA, anda sudah bisa membayangkan kelanjutannya kan?”
Sebelum saya membayangkan kelanjutan dari VOILA, ada yang pelu saya cemarti di sini. Anda menyebutkan “komunikasikan dengan baik”, entah apa yang anda maksud “komunikasikan dengan baik” di sini, apakah itu menggunakan bahasa yang santun lagi sopan, penggunaan tata bahasa dan EYD yang baik lagi benar atau hal lainnya. Bagi saya mengkomunikasikan dengan baik adalah (cara/bentuk) penyampaian suatu pesan yang disesuaikan dengan kepada siapa kita tujukan pesan tersebut agar diterima dengan baik (sesuai dengan yang kita maksud). Bagaimana kita tahu apakah suatu bentuk komunikasi telah sesuai/baik tanpa mengetahui kepada siapa kita berkomunikasi. Tidak dapat dipungkiri peran riset (baik primer maupun sekunder, dari yang sangat canggih sampai yang “abal-abal”) menjadi penting. Atau jangan-jangan hal tersebut sudah terangkum dalam VOILA?
Sedangkan tentang thesis Anda yang menyatakan selalu ada pasar untuk (produk) apa pun saya akui saya setuju tentang hal tersebut, dan sudah pasti pasar yang dimaksud di sini adalah pasar yang “satu frekuensi” dengan produk tersebut. Mungkin ada sudah mendengar tentang fenomena “The Long Tail” (bila belum go look on google please). Sebenarnya pemikiran inti dari post saya (thsis) di atas juga dipengaruhi fenomena “The Long Tail” tersebut.
Apabila Anda masih ingin melanjutkan tukar argumen kita, tanpa mengurangi rasa hormat, silakan Anda susun sebuah post yang cukup matang, setidaknya, dari blog Anda lalu trackbak (tautkan) ke post ini. Terima Kasih.
@Nonadita
Perlu Nona ingat bahasan saya di sini adalah konten secara umum, tidak sebatas blog saja, apa lagi blog pribadi yang memang karena sifat sepontan-”uhuy”-nyalah yang membuatnya menarik untuk disimak.
Hem.. saya pikir tujuan kita sama, yaitu berbagi, akan tetapi mungkin alasan/purpose/the-why blog saya yang ini berbeda dengan blog Anda (bahkan berbeda dengan blog pribadi saya) sehingga apa yang dibagi menjadi berbeda.
Terima kasih cukup sekian. Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.
PS: @Kebon jahe: kayaknya rumit amat yah, seperti yang sudah sering saya katakan that’s life, it’s not that simple!!.
PS: @Nonadita: Selamat pagi Nonadita, buku bisnis apa yang sudah Anda download dan baca pagi ini?
PSS: Kepada pembaca sekalian mohon maklum kiranya bila nuansa post ini “agak-agak gimana gitu”
. Saya hanya mencoba berkomunikasi dengan baik, menyesuaikan bentuk penyampaian dengan komunikan.
PSSS: Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya post kali ini hanya perluasan dari kolom komentar post Konten Hebat Bagi yang Tepat. Bila para pembaca ingin ikut serta berdiskusi tentang topik pada post tersebut silakan meninggalkan komentar Anda pada kolom kementar post tersebut.
Penanda Buku dan Berbagi
Post Terkait













Komentar Terbaru